PERTEMUAN 5 : PROSES KOGNITIF MATEMATIKA
APA ITU PROSES KOGNITIF?
Proses
Kognitif adalah proses aktivitas mental dalam pikiran seseorang, yaitu sesuatu
yang tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat diukur melalui perilaku
yang ditampilkan dan diamati (Subarinah, 2015) dan pembelajaran matematika yang
baik sebaiknya juga lebih menekankan aktivitas siswa sebagai pusat
pembelajaran. Siswa didorong untuk aktif baik secara mental maupun secara
fisik. Dalam pembelajaran matematika, siswa harus dirangsang untuk mencari
sendiri, melakukan penyelidikan (investigation), melakukan pembuktian terhadap
suatu dugaan (Conjecture) yang mereka buat sendiri, dan mencari tahu jawaban
atas pertanyaan teman atau pertanyaan gurunya (Turmudi, 2008).
Proses
kognitif yang diistilahkan dengan aktivitas memori terdiri atas kegiatan intelektual
di dalam diri seseorang yang berfungsi mengangkut atau memindahkan informasi
dari bak yang satu ke bak yang lainnya. Kegiatan intelektual yang dimaksudkan
adalah kagiatan mengindra, memperhatikan, menanggapi, membiasakan
(mengulang-ulangi/latihan), menghubungkan, dan memanggil ulang. Yang terakhir
adalah unsur metakognisi itu. Dengan kata lain, metakognisi mengawasi proses
pemindahan informasi dari satu bak ke bak lain dan juga mengkoordinasi proses
tersebut.
APA SAJA
PROSES PROSES KOGNITIF?
Proses-proses
kognitif merupakan kegiatan intelektual yang terjadi di dalam otak manusia yang
berfungsi meramu dan memindahkan informasi dari satu bak ke bak memori lainnya.
Kegiatan intelektual yang dimaksud adalah perhatian (attention) ,
persepsi (perception) , pembiasaan (rehearsal) , penyandian (encoding) , dan
pemanggilan (retrieval) . Kegiatan inilah yang sangat berperan bagi
manusia dalam proses memahami sesuatu informasi hingga menjadi
pengetahuan-pengetahuan untuk kebutuhan hidupnya.
~Perhatian (Attention)~
Di dalam
ruangan yang sedang ditempati berdiskusi saat ini, terdapat stimulan yang tak
terhitung jumlahnya. Benda-benda yang tampak oleh penglihatan, suara kursi yang
berderik, bau-bauan yang silih berganti, udara panas dan dingin yang ditangkap
oleh indrra perasa, semuanya merupakan contoh stimulant yang kehadirannya
nyaris tak disadari. Apabila sekarang ini penglihatan kita digerakkan untuk
membaca kalimat-kalimat yang tertulis pada paragraph ini, atau dengan segaja
mendengarkan suara orang yang membacakan paragraph ini, maka saraf-saraf di
otak kita sedang melakukan lebih muda baginya menanggapi materi itu dan
kemungkinan penanggapannya akan lebih baik dibandingkan dengan orang yang belum
memiliki schemata tentang hal tersebut.
~Persepsi (Perception)~
Hal lain
adalah harapan yang diinginkan untuk dialami. Persepsi seseorang juga
dipengaruhi harapan-harapannya untuk mengalami sesuatu. Misalnya, anda
diberitahu bahwa si A adalah orang yang baik, maka pada saat itu anda sudah
mempunyai persepsi positif terhadap A. harapan anda tentunya akan berhadapan
dengan si A yang baik. Pada saat anda bertemu dengan si A, kemudian apa yang
anda harapkan tidak sesuai kenyataan, atau si A itu kejam misalnya, maka
praktis pada saat itu harapan anda sirna dan persepsi anda tentang si A juga
berubah.
Untuk
mengecek benar –tidaknya persepsi atau tanggapan pebelajar, dapat dilakukan
dengan memberikan pertanyaan terbuka atau menerangkan. Artinya, pertanyaan
itu memungkinkan beragam jawaban. Bila ternyata siswa bisa menjelaskan
dengan baik, maka persepsinya sudah benar. Kalau tidak, hendaknya dibetulkan
kembali.
~Pembiasaan
( Rehearsal )~
Pembiasaan
dapat dilakukan dengan melatih diri atau mengulang-ulangi informasi agar bisa
dipertahankan di bak ingatan atau diteruskan ke bak kenangan. Hal ini dilakukan
oleh otak manusia karena terbatasnya kapsitas dan kurun waktu bak ingatan.
Cara yang bisa dilakukan untuk memindahkan informasi yang penting ke
bak kenangan adalah pembiasaan. Ada dua jenis pembiasaan yang dapat dilakukan,
yaitu pembiasaan yang sinambungan dan pembiasaan yang relaboratif. Pembiasaan
yang sinambung misalnya kegiatan shalat atau menghafal surah, dilakukan secara
berulang-ulang tanpa perubahan bentuk. Adapun pembiasaan elaborative atau
menggunakan batu loncatan adalah menghubungkan informasi yang akan diingat
dengan menggunakan informasi lain yang ada di bak ingatan. Misalnya, bila anda
tahu bahwa tahun 1945 adalah tahun kemerdekaan Indonesia, kemudian anda
memiliki nomor akses ATM juga 1945, maka untuk mengingatnya, anda dapat
mengingat tahun kemerdekaan terlebih dahulu. Hal ini sejalan dengan penegrtian
“loncatan berpikir”.
~Penyandian
( Encoding )~
Encoding
akan terjadi bila seseorang membentuk bayangan informasi tentang sesuatu di
dalam benaknya kemudian mengistirahatkannya dalam bak kenangan. Kegiatan
encoding merupakan kegiatan yang mengatur dan mengaitkan informasi baru dengan
informasi yang sudah ada di bak kenangan. Maksudnya, bila seseorang sudah
memiliki pengetahuan dalam tentang sesuatu, maka akan lebih mudah baginya
memahami sebuah informasi baru dengan cara menghubungkan informaisi lama dengan
informasi yang baru saja diperoleh. Semakin banyak schemata, semakin besar
kemungkinannya untuk melakukan kegiatan encoding.
Cara yang
dapat dilakukan untuk encoding adalah dengan mengulang-ulang informasi tersebut
dan mengupayakan agar kegiatan belajar sedapat mungkin bermakna. Kebermaknaan
menggambarkan sejumlah hubungan/asosiasi antara satu ide dengan ide lainnya.
Seseorang yang sudah memiliki pengetahuan dasar tentang perkembangan mental
anak usia 1-3 tahun akan lebih mudah memahami prilaku anak di usia tersebut
dibangdingkan dengan seseorang yang sama sekali belum memilki pengetahuan dasar
tentang hal itu. Bagi yang sudah berskemata akan merasakan kebermaknaan dalam
kegiatan memahami informasi baru tersebut dan lebih mudah baginya untuk
menyimpannya di bak kenangan, karena jenis pengetahuannya yang sama.
Hal ini
yang perlu diperhatikan bahwa untuk membuat informasi lebih bermakna dan lebih
mudah disimpan di bak kenangan dapat dilakukan dengan menguraikan atau
memproses informasi itu lebih dalam. Semakin dalam informasi itu diproses,
semakin banyak penghubungan yang bisa dikaitkan dengan informasi tersebut.
Dengan sendirinya, informasi itu akan lebih bermakna. Misalnya, untuk
memberikan pengetahuan pada siswa mengenai sebuah planet, tidak
cukup hanya dengan menjelaskan nama dan posisinya. Untuk membuat informasi itu
lebih bermakna, perlu diuraikan juga mengenai ukuran, kala rotasi, suhu,
jaraknya ke matahari, dan keterkaitan lainnya dalam tata surya sehingga
diharapkan kelak akan lebih mudah menghubungkannya dengan informasi baru.
~Lupa~
Pembahasan mengenai memori atau ingatan dan prosesnya tidak lengkap bila belum
membahas masalah ‘lupa”. Lupa atau melupakan adalah kegagalan dalam menginat.
Informasii yang ditampung di bak kesan dilupakan bila tidak segera diproses. Ingatan
akan hilang bila tidak sering diulang-ulang. Kenangan juga masih bisa terjadi
kerusakan dalam fungsi memori dan sebagainya.
Terjadinya lupa dapat disebabkan oleh adanya informasi lain yang hampir
sama dan mengacaukan pemahaman seseorang. Misalnya, dalam pelajaran bahasa
inggris mengenai penggunaan to be. Pada pengenalan konsep to be. Diartikan
bahwa bila kalimat akan menggunakan kara sesudah subyek, maka to be tidak boleh
digunakan. Konsep ini telah mengakar sampai pada saat pembelajar menemukan bentuk
pasif dan progresif. Dalam kasus tersebut, pembelajaran akan ragu dengan
pemahaman konsep awalnya mengenai to be. Bila bentuk pasif dan progressif
dijelaskan kepadanya, mungkin akan terjadi kekacauan pemahaman tentang
penggunaan to be karena bisa juga digunakan dalam kalimat verbal lainnya,
pebelajar akan menggunakan to be secara serampangan akibat adanya
ketergangtungan oleh bentuk pasif dan progresif tersebut. Untuk
mengatasinya, disarankan muntuk memberikan review dan perbandingan dalam penggunaan
konsep yang serupa. Selain itu, dapat juga diajarkan secara berdekatan dengan
menjelaskan persamaan dan perbedaannya.
Lupa
juga dapat terjadi karena informasi yang tersimpan dalam bak kenangan tidak
dapat lagi dipanggil karena informasinya sudah tidak bisa ditemukan. Informasi
yang tersimpan dalam bak kenangan tetap berada di sana selamanya, hanya tidak
bisa ditemukan lagi. Inillah yang disebut dengan gejala tif-of-tongue ( ujung
lidah ) atau kira-kira dapat diterjemahkan dengan istilah kehabisan akal atau
mati akal atau buntu otak.
Untuk mengatasi hal tersebut, peran konteks diharapkan dapat membantu. Dalam
usaha mengiungat suatu kesan, cobalah terawangkan pikiran pada konteks-konteks
yang mungkin sesuai dengan informasi yang baru saja diterima. Misalnya, untuk
mengingat yang seseorang yang pernah dikenal pada suatu kesempatan, perlu
mengganti beberapa konteks yang kira-kira sesuai dengan orang itu dan keluar
dari konteks sekarang. Memanfaatkan konteik adalah salah satu cara membantu
mengingatkan. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi pengajar untuk memberikan
beberapa masalah memulai suatu materi. Masalah-masalah tersebut akan dijadikan
sebagai schemata yang akan dihubungkan dengan materi yang akan
segera diajarkan. Nantinya, konteks yang berupa masalah dapat digunakan untuk
mengingat konsep yang diajarkan sekarang. Jadi, masalah-masalah atau
pertanyaan – pertanyaan yang diajukan sebagai konteks suatu informasi dapat
digunakan muntuk memanggil informasi melalui konteks tadi.
Komentar
Posting Komentar